Berita

 Network

 Partner

Tadarus Pancasila: Napak Tilas Pemikiran KH Achmad Siddiq
Tadarus Pancasila: Napak Tilas Pemikiran KH Achmad Siddiq

Lesbumi Jember Gelar Diskusi Pemikiran KH Achmad Siddiq

Berita Baru Jatim, Jember – Gelaran Pangkalan Budaya ke-2 oleh Lesbumi PCNU Jember kali ini bekerjasama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) dengan menyajikan tema menarik yakni mendaras jejak-jejak atau kiprah KH Achmad Siddiq dalam diskursus agama dan negara, khususnya Pancasila.

Pemantik diskusi dalam acara tersebut antara lain  Halim Soebahar (Guru Besar UIN KHAS Jember) dan Akhmad Taufiq (Wakil Ketua PCNU Jember dan Ketua PP ADP IKA-PMII).

”Tema ini sangat relevan dalam konteks Bulan Pancasila saat ini. Selain itu, kegiatan ini merupakan momentum dalam mengenang dan membedah pemikiran tokoh kebangsaan nasional yang asli atau lahir dari tlatah bumi Jember,” ujar Fandrik, Bendahara Lesbumi PCNU Jember.

“Saya bersyukur pernah nyantri sekitar 10 tahun di pesantren beliau, karunia yang luar biasa bagi saya yang telah dipertemukan sosok murabbi yang sabar, arif, cerdas,dan berani,” tukas cerpenis nasional tersebut.

KH Achmad Siddiq sosok arsitek dalam rancangan NU kembali ke khittah 1926 dengan menuliskan Khittah Nahdliyyah, risalah penting untuk memahami khittah NU serta penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi dengan menyusun deklarasi hubungan Pancasila dengan Islam pada tahun 1983-1984. Ia merupakan tokoh nasional dari kalangan NU, yang mampu ‘melerai’ ketegangan hubungan antara agama dan Pancasila pada masa 1980-an, tepatnya pada Munas 1983 dan Muktamar NU 1984 di Situbondo.

“Penerimaan asas tunggal Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang disampaikan beliau, mau tidak mau, suka atau tidak suka, adalah mengilhami sepenuhnya bagaimana cara kita berideologi dan bagaimana cara kita menempat ideologi secara semestinya,” ungkap Halim Soebahar.

Mereka yang beranggapan bahwa menerima Pancasila sebagai asas tunggal berarti mendepak atau melemparkan iman dan menerima asas tunggal Pancasila berarti kafir, sedang kalau menerima keduanya berarti musyrik. Hal ini ditegaskan oleh Kiai Achmad Siddiq sebagai cara berpikir yang keliru.

Berita Terkait :  Pilkada Jember 2020, PATRIOT: Kami Siap Menangkan Paslon yang Berpihak pada Santri dan Pesantren

“Oleh karena itu, seyogyanya kita warga Jember selalu memperingati sosok Kiai Achmad Siddiq, khususnya pada bulan Pancasila, lebih-lebih generasi muda seperti Lesbumi ini yang masih peduli akan sejarah pemikiran dan perjuangan beliau. Jangan lupa juga, mari kita viralkan di media sosial tentang tokoh-tokoh nasional dari Jember,” pungkas Prof Halim.

KH Achmad Siddiq merupakan tokoh heroik pada tahun 1983 dan 1984. Ia berani tampil dalam kancah nasional membawa satu panji berkenaan dengan asas tunggal Pancasila. Tentu pada momen itu, adalah momen yang sangat luar biasa karena ada suatu kondisi krisis hubungan antara satu kelompok umat islam ‘yang menolak’ dengan negara.  

Penerimaan asas tunggal Pancasila, tentu akan memberikan implikasi ideologis pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak hanya, pada masa-masa orde baru, tetapi juga implikasinya pada masa-masa sekarang. Yang itu sangat dibutuhkan generasi-generasi saat ini,” kata Akhmad Taufiq.

“Inilah manhaj wasatiyah, yang senantiasa mengembangkan jalan tengah bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, bagaimana moderasi keagamaan menjadi agenda utama bagi bangsa ini,” tegasnya.

Diakui atau tidak, lanjut Taufiq, Pancasila adalah manhaj ideologi jalan tengah itu, yang secara ideal diakui mampu menaungi seluruh elemen bangsa yang beragam ini. Elemen bangsa yang bersifat multikultural.

“Sehingga tidak ada upaya-upaya memberontak, mengacau, memecah belah persatuan bangsa dengan tujuan memformalisasikan Islam ke dalam sistem negara seperti yang dilakukan oleh para pengusung khilafah,” pungkasnya.