Naskah “Tembang Garini” Kisah Pilu Hati Perempuan

Perempuan Saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi perempuan yang divonis tidak pantas hidup sebab rahimnya tak mampu mengandung bayi dan melahirkan keturunan. Maka, ada satu pertanyaan, “Ini salah siapa, apakah salah perempuan? Pertanyaan yang terus menggantung dan harus dijawab terlebih dahulu, agar diskriminasi horizontal tentang apa yang disebut sebagai perempuan utuh bisa dipertanggungjawaban secara adil dan setara.

Hal demikian rasa-rasanya sudah menjadi semacam polemik paling riskan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat kita. Secara tidak sadar, ‘orang ramai’ sering mempunyai anggapan bahwa tidak memiliki anak adalah bencana besar bagi kehidupan berkeluarga seorang suami dan istri. Maka, jika hukum fiqih ditafsirkan secara sontoloyo dengan mengkategorikan perempuan majir (mandul) sebagai perempuan cacat, narasi seperti “Sah bagi seorang lelaki menceraikan istri yang cacat.” akan muncul dan semakin mendiskreditkan hak-hak perempuan. Kita juga perlu tau, jika dalam hukum fiqih, ada istilah khulu’ (permintaan cerai istri atas suami), hal ini bisa terjadi jika istri tidak mendapatkan hak (nafkah) jasmani dan ruhani. Bahkan ada yang radikal mengatakan, jika ada seorang perempuan sebelum menikah, sehari-hari dia memakai bedak merk make over, tetapi setelah menikah bedaknya turun kelas, merk Viva misalnya. Maka, secara fiqih perempuan tersebut berhak untuk melakukan khulu’ (tapi saya rasa, perempuan hari ini tidak mungkin setega itu). Hal ini membuktikan, bahwa narasi islam tentang memuliakan perempuan sudah ada sejak lama dan masih terus dijaga.

Berita Terkait :  PSG UNEJ Gelar Workshop dan Rilis Layanan Aduan Kekerasan Terhadap Perempuan
Naskah “Tembang Garini”, Juara 1 Lomba Monolog Artefac di UNS

Naskah Tembang Garini ditulis oleh Linda Maya Pratiwi, mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Jember. Ketika saya mencoba untuk bertanya, apa motivasi membuat naskah tersebut, dia menjawab “Berawal dari pengalaman empirik rill saya, lalu dilanjutkan dengan penggalian memori sekitar dan disempurnakan lewat diskusi-diskusi kecil.

Ketika membaca Naskah Garini, saya menjadi yakin dengan apa yang dikatakan psikolog kenamaan, Erich Fromm dalam bukunya Cinta, Seksualitas dan Matriarki, kurang lebih begini “Bahwa cinta seorang perempuan selalu melahirkan kasih sayang, tetapi cinta seorang lelaki kerapkali menciptakan hierarki.” Setuju atau tidak, Fromm telah memberi gambaran paling objektif sekaligus jujur mengenai perbedaan cinta laki-laki dan perempuan. Betapa tulusnya cinta Garini kepada suaminya, sehingga rela mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaan suami. Singkat cerita, Garini adalah perempuan bernasib baik sekaligus buruk. Dia diperistri seorang pemimin desa yang masyhur, bernama Darsuki. Darsuki bisa dikatakan sebagai seorang lelaki yang setia, sebelum tau bahwa Garini divonis tidak akan pernah bisa melahirkan keturunan seumur hidup, meski sudah berobat beberapa kali. Sebagai lelaki yang lahir dari keluarga besar berpengaruh, Darsuki mendapat tekanan psikologi dan beban moral dari keluarganya untuk segera menceraikan Garini. “Buat apa menikahi perempuan cacat? ”Sebagai seorang istri, selain merasa salah dan telah mengecewakan, akhirnya Garini merelakan suaminya untuk menikah lagi.

Berita Terkait :  Podcast PERSPEKTIF Bahas Perempuan dan Keberlanjutan Perhutanan Sosial

Saya jadi teringat Kartini “Saya tidak akan pernah hormat dengan seorang lelaki yang sudah beristri, tetapi masih membawa perempuan lain ke rumahnya” Kartini tidak melihat legalitas hukum poligami secara syariat, bagi Kartini, tindakan yang menyakitkan sesama, dosalah di matanya. Seikhlas apapun Garini merelakan suaminya untuk menikah lagi, hati Garini tetaplah menjerit. Tidak ada satupun perempuan yang mau diduakan. Dia ditinggalkan suaminya sebab musibah yang tidak pernah dia minta dan harapkan.

Garini adalah sebuah rekam bagaiamana kegagalan pranata sosial masyarakat mengatur secara adil terkait hak-hak perempuan secara manusiawi. Garini tetap menjadi perempuan utuh, meski tidak dapat mengandung. Keutuhan Garini sebagai perempuan, terletak pada keikhlasannya.

Facebook Comments Box
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini