Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Papermob UNEJ 2023: Hilangnya Daya Kritis Mahasiswa

Papermob UNEJ 2023: Hilangnya Daya Kritis Mahasiswa



Oleh: Haikal Faqih (Mahasiswa Sastra Indonesia 2021)


Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Jember resmi berakhir pada 20 Agustus 2023 kemarin. Keberhasilan acara pengenalan kampus selama sepekan tersebut perlu diapresiasi. Program tahunan bertajuk “Kampus Inspiratif, Mimpi Eksploratif” itu merupakan pintu masuk bagi mahasiswa-mahasiswa baru untuk memulai langkah pertama belajar di lingkungan kampus Universitas Jember.

Sesuai dengan panduan umum PKKMB Kemdikbud Ristek, terdapat lima jenis materi yang perlu dihadirkan kepada mahasiswa baru guna mengakselerasi adaptasi dan transisi ke lingkungan pembelajaran anyar. Beberapa materi tersebut antara lain pengenalan sistem pendidikan tinggi di Indonesia dan pengembangan karakter mahasiswa yang intelektual, antikekerasan seksual, antiperundungan, antinarkoba, antikorupsi, serta perwujudan kampus sehat.

Dua jenis materi tersebut di atas perlu digarisbawahi menyangkut soal pemilihan penyelenggaraan paper mob yang diselenggarakan pada hari akhir PKKMB kemarin. Paper mob merupakan satu di antara banyak jenis upaya pengenalan kehidupan kampus. Atraksi yang membutuhkan sekumpulan orang ini bertujuan untuk memperlihatkan pesan-pesan berupa gambar atau tulisan tertentu secara koreografis.

Lazimnya paper mob berisi pesan ideologi tertentu atau visi misi yang kampus terkait usung, atau hanya berupa gambar-gambar menarik yang dekat dengan identitas kampus, tergantung pesan-pesan apa yang ingin ditampilkan pada khalayak ramai setelah formasi-formasinya diunggah ke kanal-kanal media sosial.

Persoalan paper mob PKKMB Unej perlu menjadi sorotan terutama adanya tiga formasi yang kurang perlu dan berlebihan berupa tulisan “thanks to”, “bapak Iwan Taruna”, berikut dengan siluet sang rektor. Formasi paper mob demikian selain memberi kesan kaku dan tidak eksploratif karena hanya berbekal dwiwarna merah-putih, ia juga menyuguhkan pesan-pesan yang tidak informatif dan majal.

Selain itu kehaus-rakusan terhadap citra masih dipelihara seolah merupakan hal yang signifikan & nomor satu. Betapa tidak, pelaksanaan paper mob yang alih-alih dibikin buat menyuguhkan prinsip dan komitmen kampus nyatanya lebih berguna untuk meneguhkan citra sang rektor sebanyak tiga salindia. Korelasi muncul ketika keleluasaan dalam memberi perintah untuk mendesain formasi paper mob yang cringe itu dikaitkan dengan pemilihan panitia PKKMB yang ditengarai tidak selektif menurut unggahan salah satu akun BEM fakultas yang telah ditarik kembali.

Citra dalam definisi Yasraf (2020) adalah sesuatu yang dapat ditangkap secara perseptual, akan tetapi tidak memiliki eksistensi substansial. Sebanyak 7713 mahasiswa baru dijemur susah payah hanya sebagai alat pencitraan sang rektor daripada untuk mempertontonkan intelektualitasnya. Hal ini membuat acara paper mob tidak menghasilkan suatu hal penting kecuali sedikit informasi tidak perlu, tontonan penghambaan kepada sang rektor seolah dedikasinya tak terhingga, dan sampah-sampah kertas. Upaya yang tidak memperteguh substansi apapun.

Normalisasi penghambaan terhadap citra pada akhirnya akan mengarah pada pengkultusan seorang pemimpin yang hanya akan menghentikan kritisisme mahasiswa-mahasiswanya. Hal demikian tentu bertentangan dengan kenyataan bahwa kampus adalah tempat di mana akal sehat dan kritisisme diasuh & dipelihara dalam sebaik-baiknya peram, bukan malah dikondisikan kritisismenya supaya berhenti berkembang.

Guna mengatasi euforia paper mob kemarin, mari kita bandingkan dengan formasi-formasi paper mob UIN Walisongo yang mempertontonkan jati diri seharusnya seorang mahasiswa: melek realitas, berpihak dengan masyarakat, mengawal kebijakan, dan oposan. Mereka memperlihatkan bahwa tidak ada disparitas antara mahasiswa dan masyarakat sendiri, menepis anggapan bahwa perguruan tinggi adalah kahyangan yang sulit dijangkau masyarakat-masyarakat keci. Persetan dengan citra rektornya, karena sang rektor UIN Walisongo tidak membutuhkannya dan tahu belaka kepada siapa pengabdian dan kepedulian kampus itu ditujukan.

Pesan-pesan yang sarat akan pengetahuan tentang etika enviromental dan transformasi masyarakat dengan baik membidik problem-problem, kriminalisasi terhadap rakyat, dan konflik agraria yang sedang marak dilakukan korporasi-korporasi dan disponsori negara sekadar untuk kepentingan kapital. Kampanye paper mob ini dibungkus dengan kalimat-kalimat perlawanan yang retoris dan sarkas seperti: Indonesia darurat agraria, tanah milik rakyat, tambang tumbang, polusi kasih solusi, save Karimun Jawa, save Kendeng Lestari, Wadas melawan, warga Pakel mengharap keadilan, usut tuntas mafia tanah, represif meningkat rakyat terjerat, hutan untuk rakyat.

Sebagai perguruan tinggi yang memiliki fokus dalam pengembangan bidang agraria dan berwawasan lingkungan seperti tertera dalam visinya, seharusnya kampanye tentang reformasi agraria dan problematika lingkungan disiarkan sejak masa pengenalan kampus. Namun demikian, pembendaharaan kosa kata pihak akademik universitas terbatas buat melambungkan namanya, tidak untuk mengucapkan visi universitas yang amat jauh lebih penting dan mendesak.

Para taruna-taruna muda sejak dini diberi asupan pembelajaran penjilatan demi keberlangsungan citra, membingkai realitas yang tidak semestinya. Secara sadar atau tidak, ini menjadi upaya awal pihak universitas sendiri membatalkan pelajaran pengembangan karakter mahasiswa yang intelektual dan berintegritas.

Bahwa hakikat pendidikan yang seyogyanya untuk membangun kesadaran kritis sebagai proposal dalam mengupayakan pemanusiaan manusia dilabrak dan ditempatkan dalam posisi alienasi di pinggir jalan besar “citra”. Pengupayaan total terhadap citra ini pada akhirnya punya implikasi pada semua jargon-jargon yang dilontarkan pihak universitas terasa kering, keropos, dan tidak ada artinya, selain lagi-lagi hanya untuk kebutuhan yang saya tidak perlu menyebutkannya lagi.

Selempangku
beras