Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Sahabat Farid; Obor Pergerakan dari Pesantren
MOHAMMAD FARID SYAHRUDIN AZZUHDI

Sahabat Farid; Obor Pergerakan dari Pesantren


Berita Baru, Tokoh – Sekira tahun 2016, pria asal Puger, Kabupaten Jember itu merantau ke Bumi Blambangan. Lulus dari PP Bustanul Ulum, Wulunan Jember tak membuatnya puas. Haus ilmu membuat dia memilih melanjutnya nyantri di PP Darussalam Blokagung Banyuwangi. 

Namun bukan berarti pengetahuan ilmu umum tak dianggap penting. Dia berseragam putih abu-abu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bustanul Ulum. Di sekolah itu, pria yang lahir 31 Agustus 1997 mulai berkenalan dengan angka-angka. Tiga tahun dia bergulat dengan ilmu-ilmu di Jurusan Akuntansi. 

Di salah satu pesantren besar di Kabupaten Banyuwangi, Pria bernama lengkap Mohammad Farid Syahrudin Azzuhdi itu tak sekadar mondok. Dia pun mendaftar kuliah di Program Studi Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Darussalam Blokagung, Banyuwangi. 

Di kampus itulah, Farid berkenalan dengan pelbagai dinamika organisasi dan pengetahuan. Di tahun-tahun awal, Farid telah menceburkan diri menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan Ekonomi Syariah. Keaktifannya di wadah anyar itu membawa Farid ke berbagai organisasi lain. 

Dua tahun berselang, Farid menahkodai BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Bahkan di tahun itu pula dia menginisiasi organisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah & Perbankan Syariah. 

Dinamika kehidupan mahasiswa terus membuat Farid terus belajar menjadi organisatoris. Sifat kepemimpinan yang tercermin dari sosoknya membuat dia diamanahi untuk memimpin di Senat Mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam Blokagung. Dunia mahasiswa terus dia geluti. 

Pengetahuan dan mentalitas yang dia miliki berawal dari gemblengan di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di awal kuliah, Farid resmi menjadi kader organisasi mahasiswa terbesar itu. Pondasi dasar ideologis dia terima di Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) Pengurus Komisariat (PK) PMII IAI Darussalam Blokagung. 

Proses kaderisasi dia lalui. Tahun demi tahun dia lewati. Dari Pelatihan Kader Dasar (PKD) di Jember hingga Pelatihan Kader Lanjut (PKL) di Situbondo pun dia ikuti. Farid kian memantapkan diri untuk berproses di PMII. Kerja-kerja ideologisasi dan kaderisasi Farid lakukan. Semenjak di kepengurusan rayon dan komisariat Farid aktif di bidang kaderisasi. 

Memang, tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun kegigihannya tentu membuahkan hasil. PMII IAI Darussalam, misalnya, yang merupakan komisariat yang berada di lingkungan pesantren. Perjuangan kerja kaderisasi dan oragnisasi Farid bukan tak ada tantangan. Dia harus berhadapan dengan peraturan di pesantren, seperti perizinan. 

Dia harus berjibaku membangun dan merawat rayon persiapan hingga menjadi definitif. Sosok Farid sebagai pangkader tak perlu diragukan. Berkat tangan dingin Farid dan kepengurusannya, PMII IAI Darussalam menjadi lembaga paling besar secara kuantitas di PMII Banyuwangi.

Ghirah pergerakan dan semangat berorganisasi terus Farid rawat. Dengan visi PMII Banyuwangi, Maju, Mandiri, dan Berkarakter Farid berniat mengabdikan diri menahkodai kaderisasi di PMII Sunrise of Java. Impian yang tertuang dalam visi itu bukan bak mimpi di siang bolong. 

Pelbagai strategi dan ikhtiar pun telah dia petakan. Memperkuat kerja ideologis PMII Banyuwangi dengan Nahdlatul Ulama’ dan Pesantren menjadi pondasi dasar yang berusaha Farid lakoni. Di sisi lain, Farid pun terus beradaptasi dengan pelbagai perkembangan zaman tanpa meninggalkan kearifan lokal. Itu sebabnya reformulasi kaderisasi PMII Banyuwangi dalam upaya optimalisasi kader potensial berbasis kearifan lokal dan teknologi, menjadi penting untuk digarap. 

Farid pun menyadari bahwa akselerasi pendayagunaan aparatur organisasi dan inovasi PMII Banyuwangi melalui sinergi kolaboratif penta-helix menjadi penopang dalam mewujudkan mimpinya. Pelbagai ikhtiar itu pun mesti ditopang oleh ekonomi. Hanya saja, Farid menegaskan bahwa kemandirian organisasi mesti dibentuk dengan membangun sektor ekonomi kreatif di bidang pariwisata dan budaya.

Farid menilai harapan menjadikan PMII Banyuwangi sebagai sentrum gerakan mesti didorong dengan membentuk tim riset potensi dan tim advokasi isu strategis kebijakan publik. Sebab baginya riset-advokasi dan gerakan mahasiswa adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.

beras