Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Warga Surabaya Tulis Surat Cinta untuk Walikota Surabaya
(Dok. Foto: Instagram @chuk_ran)

Warga Surabaya Tulis Surat Cinta untuk Walikota Surabaya

beras

Berita Baru, Surabaya – Warga Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantian, Kota Surabaya Randy Saputra menulis surat cinta untuk Walikota Surabaya Eri Cahyadi. Ia menumpahkan aspirasi itu melalui akun instagram pribadinya @chuck_ran dengan caption “Surat Cinta untuk Walikotaku @ericahyadi_”.

Surat cinta yang ditulis pada, Sabtu 16 Juli 2022 itu berisi berkenaan dengan persoalan-persoalan yang harus diselesaikan oleh Pemerintah Kota Surabaya.

“Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Sebagai kota metropolitan terbesar di Provinsi Jawa Timur, Surabaya memiliki penduduk hampir 3 juta jiwa per 2022. Selain itu Surabaya juga memiliki postur anggaran yang cukup besar, APBD Surabaya mencapai kisaran 10 Triliun,” tulis Randy pada kalimat pembuka surat cintanya.

Ia melanjutkan bahwa Surabaya memiliki julukan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang diperhitungkan. Surabaya juga, tulis Randy, masuk kategori “Global Green City” dan menjadi salah satu kota percontohan di Indonesia. Randy menilai dibalik estetika dan eksotisme menjadi setiap sudut kota, realitasnya masih banyak persoalan yang harus diselesaikan oleh Pemerintah Kota. “Dalam hal ini Walikota Surabaya,” tulis Randy pada kalimat pembuka surat cintanya.

Berikut 3 poin aspirasi di dalam surat cinta untuk Walikota Surabaya.

  1. Global City yang digambarkan hanya membuka ruang tersebarnya kapitalisme industri. Kesenjangan sosial tetap menjadi fenomena yang menyeramkan, karena banyaknya rakyat miskin kota dan pengangguran yang ada di Surabaya. Adanya penyempitan ruang hidup warga perkotaan di Surabaya, kondisi ini terlihat pada pola penguasaan lahan yang terus massif oleh grup pengusaha properti. Pola yang demikian bahkan terus mendominasi dan merampas beberapa aset milik publik yang selanjutnya memicu konflik sosial dan perlawanan warga.
  2. Sebagai kota besar dan metropolitan, Surabaya juga menghadapi persoalan penting terkait tata kelola sampah. Hal ini dapat dilihat dari produksi sampah Surabaya yang mencapai 1600 ton per hari. Beban lingkungan Surabaya kian parah sebab wilayah ini juga rakus air dan turut eksploitasi air di kawasan hulu, seperti di Pasuruan yang tergambar dalam proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan.
  3. Selain polusi udara yang pekat di Surabaya. Ternyata ada polusi suara bapak Eri Cahyadi di setiap Traffic Light yang 24 jam non stop di beberapa titik. Pola kepemimpinan yang blusukan atau sekedar mencari simpati publik saya pikir sudah tidak jamannya. Yang ditunggu oleh masyarakat adalah kebijakan-kebijakan yang jelas orientasi keberpihakannya.

beras