Webinar Third series New Normal: Human Need and Political Will

Screenshot Webinar Third series New Normal: Human Need and Political Will

Berita Baru Jatim, Tulungagung — Kopri Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Tulungagung bersama Pengurus Cabang Fatayat Nadlatul Ulama Tulungagung dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Tulungagung mengadakan webinar third series bertema “New Normal: Human Need and Political Will” Perempuan Harus Bagaimana? pada Minggu (21/05/2020). Acara webinar ini diadakan via aplikasi Zoom Meeting, Talk Fusion serta disiarkan langsung di Youtube.

Ketua Kopri PC PMII Tulungagung, Utri Suciati menjelaskan bahwa Talk Fusion merupakan aplikasi yang dapat membantu peserta yang berada di daerah susah sinyal.

Acara ini menghadirkan 3 narasumber, yakni Ana Sabhana Azmy (Dosen Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta), Dewi Winarti (Ketua Pengurus Wilayah Fatayat NU Jawa Timur), dan Yuli Nadhifah (Anggota DPRD Tulungagung dan Bendahara PC Fatayat NU Tulungagung).

Webinar ini dipandu oleh 2 moderator, yakni Utri Suciati (Ketua Kopri PC PMII Tulungagung) di aplikasi Zoom Meeting dan Regita Farani (Bidang Eksternal Kopri PC PMII Tulungagung) di aplikasi Talk Fusion.

Siti Kusnul Kotimah, ketua PC Fatayat NU Tulungagung mengatakan bahwa New Normal berarti kita harus membiasaan kebiasaan baru, jangan sampai lengah. “Menghimbau untuk lebih waspada dan patuh pada protokol kesehatan yang telah di tetapkan oleh pemerintah,” lanjutnya.

Berita Terkait :  Peringati IWD 2021, The Asia Foundation Hadirkan 5 Pemimpin Perempuan Hebat

Yuli menjelaskan bahwa Human Needs adalah kebutuhan yang diperlukan manusia yaitu sandang, pangan, dan papan serta makna political will adalah cara pemerintah memenuhi kebutuhan mendasar bagi masyarakat.

Di sisi lain, Dewi Winarti menyebutkan bahwa Tulungagung masuk peringkat kelima dalam hal ini. “PSBB yang dilakukan di beberapa daerah ini menyebabkan alur masuk bahan makanan semakin sulit, sehingga hal ini menyebabkan kegelisahan kepada penjual makanan dalam pendistribusiannya,” jelas Dewi.

“Hal yang terdampak karena adanya pandemi ini adalah kesehatan, ekonomi, keamanan, dan sosial,” tambahnya.

Dewi mengatakan bahwa perempuan menjadi pemain utama, karena ketika PSBB semua kembali ke rumah, sehingga beban ganda terjadi lebih banyak kepada perempuan.

“Belum ada rumus pasti terkait kebijakan baru new normal, akan tetapi perempuan mendominasi beberapa sektor, yakni pendidikan 7,74%, sosial dan kesehatan 2,52%, serta ekonomi kreatif 53,86%. Sementara laki-laki dalam sektor pendidikan 3,26% dan sektor sosial kesehatan 0,84%.” tambahnya.

Selain itu, Ana menampilkan kurva penanganan Covid-19 di Asia Tenggara. Ia mengatakan bahwa stagnan kurva yang terjadi di Indonesia ini menandakan bahwa penanganan Covid-19 membutuhkan partisipasi dari masyarakat.

Berita Terkait :  KOPRI Jember Adakan FSKP Bahas Kedaulatan Perempuan pada Proses Demokrasi

“Masyarakat perlu paham kondisi new normal, karena tiap daerah tidak sama kesiapannya, perketat pengawasan dan keamanan, sinergi di level kebijaksanaan, koordinasi antar lembaga, serta melakukan sosialisasi.” tambahnya.

Ana mengatakan bahwa literasi politik adalah jawaban untuk mengajak masyarakat agar selalu waspada terutama dengan kesehatan.

Facebook Comments Box
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini