Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Pendidikan itu Melawan dan Membebaskan

Pendidikan itu Melawan dan Membebaskan

Pendidikan itu Melawan dan Membebaskan

Opini Tidak ada anak yang bodoh. Pemikiran Paulo Freire itulah yang mendasari saya untuk selalu berpikir positif terhadap semua anak didik saya. Mencari potensi yang dapat dikembangkan pada diri mereka, karena pada dasarnya kecerdasan tidaklah soal nilai seratus untuk tiap mata pelajaran ataupun kecerdasan tidaklah dapat diukur hanya dengan nilai raport dan ujian yang tinggi. Masih banyak kecerdasan lain yang dapat dikembangkan, hal inilah yang kemudian disebut dengan kecerdasan majemuk. Jika kecerdasan dinilai dari nilai Matematika yang tinggi, jelas saya termasuk murid yang bodoh, karena nilai Matematika sewaktu saya sekolah selalu di bawah rata-rata, kalaupun dapat nilai bagus, itu berarti saya harus memutar otak melebihi kecepatan putaran komedi putar, atau bisa jadi saya dapat contekan jawaban dari teman. 

Jika kecerdasan diukur dengan kemampuan seseorang untuk mengetahui dan paham akan arah mata angin, maka saya pun termasuk murid yang bodoh. Hal ini dikarenakan kelainan yang entah apa namanya, karena sampai hari ini pun saya belum mengetahuinya, saya menyebutnya Disleksia Arah, ketidakmampuan dalam membaca arah dan ketidakmampuan dalam mengingat jalan, hal ini sudah saya rasakan semenjak saya masih duduk di bangku SD, yang pada waktu itu sepulang les menggambar, lupa jalan pulang ke rumah saya sendiri dan harus tersesat hingga beberapa kilometer dari rumah. Bahkan ketika sudah berumur seperti sekarang ini pun, saya sering lupa jalan dan keliru memilih jalan di tempat tinggal saya sendiri. Akan tetapi, di sisi lain dan dalam pelajaran yang lain, kemampuan saya melebihi teman-teman saya. Hal inilah yang akhirnya membuka pikiran saya untuk memandang anak didik saya dari sudut pandang yang lain. Tidak hanya dari segi nilai dan kemampuan menyelesaikan soal ujian, tetapi juga dari sudut pandang seni dan etika.

Pendidikan yang sebenarnya, menurut saya adalah pendidikan yang mampu memperlakukan anak didik sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. Pendidikan yang mampu menghargai mereka sebagai manusia, bukan malah menjadikan mereka manusia yang rendah diri dan tidak menghormati dirinya sendiri. Karena tanpa disadari, stigma guru yang melekat pada anak didik yang mengatakan mereka anak bodoh, akan mengendap di alam bawah sadar mereka dan membuat mereka yakin bahwa mereka memang seorang anak yang bodoh, sehingga membuat mereka tidak termotivasi untuk belajar dan berkreasi. Yang pada akhirnya akan mampu membunuh karakter siswa secara perlahan, dan guru bertanggungjawab atas hal ini. Kalau boleh saya katakan, ini adalah salah satu dosa besar kita sebagai guru.

Selain itu, anak didik cenderung dibentuk sesuai keinginan guru, sehingga membatasi ruang gerak mereka dan kreativitas mereka. Untuk contoh kecil saja, ketika anak didik menjawab pertanyaan yang tidak sesuai dengan kehendak guru, meskipun itu jawaban yang benar, guru akan tetap menyalahkan jawaban tersebut. Padahal jika ditilik lebih jauh, jawaban anak didik tersebut justru jawaban cerdas yang jauh dari alur berpikir kita. Hal ini dikarenakan, dalam dunia pendidikan, selalu terdapat anak didik yang berpikir di luar cara berpikir kebanyakan anak-anak lain, atau saya biasanya menyebutnya out of the box.  Anak-anak semacam ini cenderung dianggap aneh oleh para guru dan terkadang dianggap biang masalah. Padahal jika potensi anak didik tersebut dikembangkan, akan mampu menjadikan mereka sosok luar biasa di masa mendatang. Sudah sepatutnya kita memperlakukan mereka selayaknya manusia, meskipun mereka anak-anak, tetapi mereka juga mempunyai harga diri yang harus dihargai dan dihormati. Dan ketika berhadapan dengan mereka, memposisikan diri kita menjadi mereka, memasuki dunianya, menyelami hatinya dan menjadi sahabat sekaligus orang tua mereka. Sehingga mereka merasa nyaman berada di sekitar kita dan pelajaran serta nilai-nilai yang ingin kita sampaikan pun akan mudah mereka terima.

Sekolah ataupun pendidikan, memang seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak didik, membuat mereka merasa nyaman, dan selalu merindukan hal-hal serta pengalaman-pengalaman baru. Bukan malah membuat mereka tertekan yang akhirnya muncullah sikap pesimis, takut, dan malas untuk sekolah. Justru ini lebih berbahaya dari nilai ujian yang jelek. Karena hal ini dapat menjadikan anak didik sebagai pribadi yang tertutup, pesimis dalam menghadapi persoalan hidup, mudah depresi, dan menjadikan mereka sosok yang tidak dapat selesai dengan dirinya sendiri. Bagaimana mereka akan dapat menyelesaikan persoalan hidup ketika dewasa nanti, ketika mereka tidak dapat mengenal diri mereka sendiri. Dan bagaimana pendidikan dapat mengurai benang kusut ini jika para guru masih berpikiran normatif, enggan belajar dari kesalahan, dan menganggap diri sudah pandai hingga tidak perlu lagi belajar dan memperluas wawasan.

Saya beranggapan, dewasa ini para guru sudah merasa nyaman di zona mereka hingga nyaris tidak ada keinginan untuk mengembangkan diri, meskipun ada, hanya sebagian kecil saja. Kebanyakan para guru mengikuti pelatihan dan kegiatan pengembangan diri, hanya sebatas untuk memperoleh sertifikat agar dapat digunakan untuk kenaikan pangkat. Sebuah disoreintasi, sehingga hal ini semakin menjadikan pendidikan jauh panggang dari api.

Sebagai guru, sudah sepantasnya kita kembali berpikir ulang untuk tidak menjadikan mereka sebagai objek dalam pendidikan. Sudah saatnya mereka menjadi subjek dalam pendidikan dan guru hanya sebagai fasilitator buat mereka. Di revolusi industri 4.0 dan di abad 21 ini, Guru tidak lagi berperan layaknya penjual jamu yang ngomong dari awal hingga akhir pelajaran. Sudah saatnya anak didik kita biarkan memecahkan persoalan dalam pembelajaran dengan pikiran dan kemampuan mereka. Guru bukan dewa yang serba tahu, yang segala ucapannya adalah maha benar. Guru juga harus siap dikritik oleh anak didik ketika apa yang dilakukan dan diajarkannya tidak sesuai dengan proses berpikir kritis mereka.

Persoalan lain dalam dunia pendidikan adalah guru dan pihak sekolah menghalalkan berbagai cara agar anak didiknya mendapat nilai yang bagus. Hal ini bisa kita lihat saat Ujian Nasional, sungguh memprihatinkan jika guru mengajarkan pada murid untuk berbuat curang dan tidak jujur dalam Ujian Nasional hanya untuk mengejar nilai yang bagus dan juga mengejar gengsi. Hal ini sangat berbahaya untuk pribadi anak didik ketika mereka dewasa nanti, karena mereka akan berpikir bahwa untuk mendapatkan segala sesuatu boleh mengesampingkan kejujuran dan menghalalkan segala cara. Jadi jangan heran ketika para pejabat banyak yang korupsi dan melanggar hukum, ini karena buah dari pendidikan karakter yang salah dan melenceng. Bukankah lagi-lagi guru turut bertanggung jawab atas hal ini?

Pendidikan yang seharusnya mampu memanusiakan manusia, pada akhirnya hanya dapat melahirkan manusia yang mampu menikam manusia lainnya, yang Plautus katakan sebagai homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi sesama manusianya. Bukankah ini sangat mengerikan?

Pendidikan itu seharusnya membebaskan, membebaskan peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, membebaskan mereka untuk berpendapat yang bertanggung jawab, membebaskan pemikiran mereka yang out of the box, serta membebaskan ide-ide “gila” yang nyleneh.

Pendidikan itu melawan. Melawan kedunguan, melawan stigma tentang prestasi anak yang hanya diukur dengan nilai (raport dan kelulusan), juga melawan lupa (lupa adat, lupa sopan santun, lupa cara berterima kasih, lupa cara tersenyum dengan tulus).

Pendidikan itu ruang tempa untuk menjadikan manusia tahu dan merdeka. Tahu cara menghargai orang lain, tahu cara menjaga harga diri, tahu cara bertoleransi, tahu cara menggunakan hati, dan yang lebih penting lagi, tahu cara bercumbu dengan Tuhannya.

Dan pendidikan itu memerdekakan manusia, merdeka dalam mengambil keputusan, merdeka dalam berkreasi, berpikir kritis, serta berani menanggung resiko. Karena pendidikan yang memerdekakan manusia akan mampu memanusiakan manusia.

Mendidik dengan hati, bukan dengan tangan besi. Karena sesuatu yang keluar dari hati, akan mudah diterima dengan hati pula. Karena ketika kita dapat mengambil hati mereka, maka jiwa mereka dapat kita genggam, dan ketika jiwa mereka kita genggam, maka kita akan mudah memasukkan nilai-nilai karakter ke dalam jiwa mereka. Sehingga harapan kita untuk menjadikan mereka pribadi yang seutuhnya dapat terwujud. Pribadi yang bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, pribadi yang mencintai sesama manusia dan pribadi yang mengasihi semesta. Singkat kata, pribadi yang takwa secara ritual dan takwa secara sosial.

beras